Bukan Sekadar Viral, Ini Cara Gado Creative Bangun Personal Branding Pakar Scopus Wakaf Dunia
Posted by Gado Creative on 15 April 2026
Banyak yang beranggapan bahwa media sosial hanyalah arena untuk influencer hiburan atau lifestyle. Padahal, di era digital seperti sekarang, media sosial bisa bertransformasi menjadi ruang kelas tanpa batas. Hal inilah yang dibuktikan dalam perjalanan personal branding Prof. Raditya Sukmana, seorang akademisi luar biasa yang kiprahnya telah diakui dunia.
Bagi mereka yang berkecimpung di dunia ekonomi syariah, nama Prof. Radit tentu sudah tidak asing. Beliau adalah Guru Besar Ekonomi Islam di Universitas Airlangga (UNAIR). Beliau menempati peringkat pertama di dunia untuk publikasi jurnal Scopus tentang wakaf, sekaligus menjadi yang pertama di Indonesia untuk ranah ekonomi Islam.
Meski memiliki kapasitas ilmu yang luar biasa, jangkauan digital beliau pada awalnya masih terbatas. Saat pertama kali berkolaborasi dengan Gado Creative, akun media sosial beliau baru menjangkau sekitar 200 followers. Tantangannya jelas: bagaimana mengemas ilmu dan kepakaran akademis yang 'berat' menjadi konten yang renyah, relevan, namun tetap menjaga marwah beliau sebagai seorang Guru Besar?
Tim Gado Creative mulai merancang manajemen personal branding yang berpusat pada rutinitas otentik Prof. Radit. Kami tidak mencoba mengubah persona beliau, melainkan membagikan keseharian beliau kepada audiens yang lebih luas.
Proses penggarapan melibatkan eksekusi kreatif dari hulu ke hilir. Tim kami turun langsung ke lapangan untuk melakukan shoot video saat beliau sedang mengajar di kelas, memberikan insight di berbagai seminar, hingga momen-momen penting saat beliau menguji sidang disertasi. Interaksi natural inilah yang menjadi daya tarik utama.
Selain video dokumentasi kegiatan, kami juga merancang desain grafis khusus untuk mengedukasi audiens seputar wakaf dan ekonomi Islam. Topik-topik akademis yang rumit kami terjemahkan menjadi bahasa visual yang mudah dipahami oleh audience tanpa kehilangan esensi ilmiahnya.
Tentu saja, konten yang bagus harus bertemu dengan mata yang tepat. Di sinilah peran analitik bermain. Gado Creative secara rutin memantau perkembangan engagement dari setiap unggahan untuk memastikan algoritma bekerja selaras dengan target audiens, yakni para mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum yang tertarik pada isu wakaf dan ekonomi Islam.
Pertumbuhan eksponensial pun terjadi. Dari yang awalnya hanya 200 pengikut, kini media sosial Prof. Radit telah melesat menyentuh angka 6.000 followers dan resmi mendapatkan lencana centang biru (verified account). Tak hanya di Instagram, ekspansi edukasi ini juga sukses membangun basis penonton setia di YouTube dengan pencapaian 1.000 subscribers.
Kini, akun media sosial Prof. Radit bukan hanya sekadar profil digital, melainkan sebuah hub edukasi yang interaktif. Perjalanan ini menjadi bukti nyata bahwa konten edukasi akademis, jika dikemas dengan strategi social media management yang tepat, bisa mendapatkan tempat spesial di hati audiens.
Bagi Gado Creative, menggarap personal branding seorang pakar dunia bukan sekadar tentang mengejar likes atau angka pengikut, melainkan tentang memastikan bahwa ilmu-ilmu bermanfaat tersebut bisa tersebar luas dan memberikan impact nyata bagi masyarakat.